Memasuki momen sakral di awal bulan suci, masyarakat di wilayah Sumatera Utara kembali dihadapkan pada tantangan ekonomi yang cukup berat. Fenomena Beban Tradisi Punggahan yang sudah mengakar kuat dalam budaya lokal menjadi salah satu faktor pemicu tingginya permintaan terhadap kebutuhan pokok secara mendadak. Tradisi berkumpul dan makan bersama keluarga besar sebelum memulai ibadah puasa ini memang memiliki nilai sosial yang luhur, namun di sisi lain, hal ini memberikan tekanan luar biasa pada rantai pasokan pangan di pasar-pasar tradisional dari Medan hingga Deli Serdang.
Kondisi yang paling mencolok terlihat pada komoditas protein hewani, di mana lonjakan Harga Daging di Sumut mulai melampaui batas kewajaran yang ditetapkan pemerintah. Banyak warga yang mengeluhkan kenaikan harga yang terjadi hampir setiap hari, mulai dari daging sapi segar hingga daging ayam potong. Meskipun stok di rumah potong hewan diklaim masih mencukupi, namun spekulasi di tingkat pedagang eceran seringkali tidak bisa dihindari akibat besarnya animo masyarakat yang ingin mempertahankan tradisi jamuan makan sebelum puasa tersebut.
Situasi pasar yang kian memanas ini membuat kondisi ekonomi menjadi Tak Terkendali bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Sebagian besar ibu rumah tangga terpaksa mengurangi kuantitas belanjaan mereka atau beralih ke bagian daging yang lebih murah agar tetap bisa menjalankan tradisi tanpa harus menguras seluruh tabungan. Pemerintah daerah diharapkan tidak hanya sekadar melakukan sidak pasar, tetapi juga harus mampu menjamin kelancaran distribusi dari daerah peternak menuju pusat-pusat keramaian agar tidak terjadi hambatan yang memicu kenaikan harga lebih lanjut.
Ketergantungan pada Beban Tradisi Punggahan ini sebenarnya bisa disiasati dengan kampanye belanja bijak jauh-jauh hari. Namun, antusiasme warga yang ingin menyajikan hidangan terbaik bagi keluarga membuat psikologi pasar menjadi sangat reaktif. Fluktuasi Harga Daging di Sumut ini diprediksi akan terus berlangsung hingga beberapa hari awal puasa sebelum akhirnya sedikit melandai. Dibutuhkan intervensi konkret seperti operasi pasar murah daging beku untuk memberikan pilihan alternatif bagi konsumen yang kesulitan menjangkau harga daging segar di pasar konvensional.
