Memori kelam Kasus Tanjung Priok tahun 1984 kembali disorot, kali ini di Sumatera Utara. Isu penembakan dan kekerasan terhadap warga sipil yang berdemonstrasi di Tanjung Priok, Jakarta, yang menewaskan dan melukai banyak orang, serta diikuti penangkapan dan penyiksaan, diangkat kembali dalam sebuah diskusi publik.
Diskusi ini bertujuan untuk mengingatkan generasi muda tentang pentingnya menjunjung tinggi hak asasi manusia (HAM) dan mencegah terulangnya tragedi serupa. Narasumber dari berbagai latar belakang, termasuk aktivis HAM dan saksi sejarah, hadir untuk berbagi perspektif tentang Kasus Tanjung Priok yang traumatis itu.
Peserta diskusi disuguhi fakta-fakta sejarah mengenai insiden berdarah tersebut, yang terjadi pada 12 September 1984. Kala itu, demonstrasi warga Tanjung Priok yang menuntut keadilan berujung pada penembakan brutal oleh aparat, menimbulkan duka mendalam bagi bangsa.
Banyak korban yang tewas ditempat, sementara puluhan lainnya mengalami luka-luka serius. Pasca-insiden, gelombang penangkapan massal dan penyiksaan terhadap warga sipil yang diduga terlibat dalam demonstrasi semakin memperkeruh situasi, meninggalkan luka yang tak tersembuhkan.
Meskipun Kasus Tanjung Priok telah berlalu puluhan tahun, luka akibat pelanggaran HAM berat ini masih terasa hingga kini. Upaya rekonsiliasi dan penegakan keadilan terus menjadi tuntutan bagi keluarga korban dan pegiat HAM.
Diskusi di Sumatera Utara ini menjadi salah satu bentuk kepedulian terhadap keadilan dan penghormatan HAM. Diharapkan, dengan terus mengangkat Kasus Tanjung Priok, kesadaran kolektif masyarakat akan pentingnya HAM semakin meningkat, dan kekerasan serupa tidak akan pernah terulang.
Pemerintah juga diharapkan dapat lebih serius dalam menuntaskan kasus-kasus pelanggaran HAM berat di masa lalu. Penyelesaian yang adil dan transparan akan menjadi fondasi penting bagi pembangunan bangsa yang lebih bermartabat dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.
Momentum ini menjadi ajang refleksi bagi kita semua. Sejarah kelam Kasus Tanjung Priok harus menjadi pengingat bahwa kekerasan tidak akan pernah menyelesaikan masalah, justru meninggalkan trauma dan dendam. Mari belajar dari masa lalu untuk membangun masa depan yang lebih baik di indonesia
