mencium batu mulia yang tersemat di sudut Ka’bah, adalah salah satu objek paling disucikan dalam Islam. Keberadaannya bukan sekadar penanda fisik, melainkan pusat perhatian spiritual bagi jutaan Muslim yang mengunjungi Baitullah. Mengunjungi Ka’bah dan melakukan tawaf tanpa menyadari signifikansi Hajar Aswad akan mengurangi kedalaman pengalaman ibadah haji atau umrah.
Salah satu praktik paling menonjol terkait Hajar Aswad adalah mencium atau mengusapnya. Ini bukanlah tradisi yang muncul begitu saja, melainkan sunah yang dicontohkan langsung oleh Nabi Muhammad SAW. Mengikuti jejak beliau dalam setiap aspek ibadah adalah bentuk ketaatan tertinggi, yang diyakini akan mendatangkan pahala berlimpah dari Allah SWT.
Mencium Hajar Aswad melambangkan kecintaan mendalam umat Islam kepada Rasulullah SAW dan ajarannya. Ini adalah ekspresi kerinduan untuk meneladani setiap perbuatan Nabi, meyakini bahwa di dalamnya terkandung keberkahan. Meskipun kepadatan jemaah seringkali membuatnya sulit, niat tulus untuk mengikuti sunah ini adalah yang paling utama.
Para ulama sepakat bahwa mencium Hajar Aswad adalah sunah yang sangat dianjurkan. Banyak hadis sahih meriwayatkan bagaimana Nabi Muhammad SAW melakukannya, bahkan di tengah keramaian. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya praktik ini dalam pandangan syariat, bukan sekadar kebiasaan, melainkan bagian dari ibadah yang mengandung nilai besar.
Bagi jemaah yang berkesempatan mencium Hajar Aswad, momen tersebut seringkali menjadi puncak emosional dan spiritual. Ini adalah kesempatan langka untuk bersentuhan langsung dengan salah satu peninggalan suci yang disunahkan Nabi. Pengalaman ini mengukir memori abadi di hati, memperkuat ikatan spiritual dengan Ka’bah dan Rasulullah SAW.
Namun, penting untuk diingat bahwa jika kondisi tidak memungkinkan untuk mencium langsung, memberi isyarat dengan tangan ke arah Hajar Aswad sudah dianggap mencukupi dan mendapatkan pahala yang sama. Islam adalah agama yang memudahkan, dan mencium Hajar Aswad dari jauh tetap memenuhi esensi sunah, tanpa menimbulkan mudarat atau kesulitan.
Dengan melakukan mencium atau mengusap Hajar Aswad sesuai sunah, jemaah tidak hanya menjalankan ritual fisik, tetapi juga meneguhkan komitmen spiritual mereka. Ini adalah manifestasi nyata dari iman dan kecintaan kepada Rasulullah SAW, serta harapan untuk mendapatkan keberkahan dan ampunan dari Allah SWT melalui ketaatan ini.
