Kehadiran organisasi VSTP sebagai serikat buruh kereta api tertua memberikan fondasi yang sangat kuat bagi pergerakan sosial. ISDV menyadari bahwa kedisiplinan dan pengorganisiran para pekerja rel ini merupakan Tulang Punggung yang ideal untuk menyebarkan paham sosialis. Tanpa dukungan dari sektor transportasi, gerakan politik akan sulit memberikan tekanan yang berarti.
Para pemimpin ISDV seperti Sneevliet aktif melakukan propaganda di bengkel-bengkel kereta api besar seperti di Semarang. Mereka melihat bahwa kesadaran kelas tumbuh lebih cepat di kalangan pekerja teknis yang sering mengalami diskriminasi upah. Buruh kereta api akhirnya resmi menjadi Tulang Punggung pergerakan karena keberanian mereka melakukan aksi pemogokan massa.
Secara sosiologis, buruh kereta api memiliki mobilitas tinggi yang memungkinkan penyebaran ideologi lintas kota secara cepat dan efektif. Mereka membawa pamflet dan gagasan radikal dari satu stasiun ke stasiun lainnya di seluruh Jawa. Hal ini memperkuat posisi buruh transportasi sebagai Tulang Punggung dalam jaringan komunikasi politik bawah tanah ISDV.
Pemerintah kolonial merasa sangat terancam dengan solidaritas yang ditunjukkan oleh para pekerja kompartemen mesin dan administrasi kereta api. Tindakan represif sering dilakukan untuk mematahkan semangat juang para buruh yang dianggap berbahaya bagi stabilitas ekonomi. Namun, posisi mereka sebagai Tulang Punggung ekonomi membuat pemerintah tidak bisa semena-mena melakukan pemecatan massal.
Keterlibatan aktif tokoh seperti Semaoen dalam VSTP semakin mempererat hubungan organisasional antara buruh kereta api dengan elit ISDV. Sinergi ini menciptakan kekuatan politik baru yang belum pernah disaksikan oleh otoritas Belanda sebelumnya di tanah jajahan. Buruh kereta api membuktikan bahwa kekuatan kolektif adalah senjata paling ampuh melawan sistem imperialisme.
Sejarah mencatat bahwa aksi mogok tahun 1923 menjadi bukti nyata betapa krusialnya peran para pekerja rel tersebut. Meskipun menghadapi risiko pengasingan, mereka tetap berdiri teguh membela hak-hak ekonomi dan politik rakyat jelata. Loyalitas tanpa batas ini menegaskan identitas mereka sebagai elemen yang paling penting dalam struktur perlawanan kiri.
