Di tengah upaya pemulihan ekonomi pascapandemi, sektor pariwisata bangkit dengan strategi baru yang lebih inklusif dan berkelanjutan. Pemerintah Indonesia kini memprioritaskan pengembangan desa wisata berbasis komunitas sebagai lokomotif utama kebangkitan sektor ini. Pendekatan ini tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan, tetapi juga untuk memberdayakan masyarakat lokal dan melestarikan kekayaan budaya serta alam yang dimiliki oleh desa-desa di seluruh nusantara.
Salah satu inisiatif strategis yang dicanangkan oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) adalah program “Desa Wisata Unggulan.” Program ini memberikan pendampingan intensif, pelatihan, dan bantuan dana kepada desa-desa yang memiliki potensi wisata. Pada acara pembukaan program di Desa Sembungan, Dieng, Jawa Tengah, pada 15 April 2025, Direktur Pengembangan Destinasi Kemenparekraf, Bapak Riza Hermansyah, menjelaskan bahwa program ini menargetkan 200 desa wisata baru setiap tahunnya. “Kami ingin memastikan bahwa sektor pariwisata bangkit dari akarnya, yaitu dari desa-desa yang memiliki keunikan dan kekuatan komunitas yang solid,” ujar Bapak Riza.
Pengembangan desa wisata berbasis komunitas ini melibatkan berbagai aspek. Pertama, pelatihan sumber daya manusia lokal. Masyarakat desa dilatih menjadi pemandu wisata, pengelola homestay, hingga pelaku usaha kuliner dan kerajinan tangan. Hal ini sejalan dengan pernyataan Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Magelang, Ibu Siti Hajar, yang mengungkapkan bahwa pada 20 September 2025, lebih dari 500 pemuda desa di wilayahnya telah mendapatkan sertifikasi profesional sebagai pemandu wisata alam dan budaya. Ini merupakan bukti nyata bagaimana partisipasi aktif masyarakat lokal menjadi kunci utama agar sektor pariwisata bangkit secara holistik.
Kedua, kolaborasi dengan berbagai pihak juga menjadi pilar penting. Pemerintah menggandeng platform digital dan startup yang bergerak di bidang pariwisata untuk membantu promosi desa-desa wisata. Sebagai contoh, pada 11 November 2025, Kemenparekraf menandatangani nota kesepahaman dengan perusahaan travel daring ternama untuk mempromosikan paket-paket wisata di desa-desa yang menjadi bagian dari program. Melalui kolaborasi ini, desa-desa yang tadinya kurang dikenal kini memiliki jangkauan promosi yang lebih luas. Langkah ini diharapkan mampu mempercepat kunjungan wisatawan sehingga sektor pariwisata bangkit dan berkontribusi signifikan terhadap perekonomian lokal.
Ketiga, fokus pada keberlanjutan. Program ini menekankan pentingnya pariwisata yang ramah lingkungan dan budaya. Masyarakat desa diajak untuk menjaga kebersihan lingkungan, mengelola sampah, dan melestarikan tradisi serta kearifan lokal. Dengan demikian, pengalaman wisata yang ditawarkan tidak hanya menarik, tetapi juga memberikan edukasi dan kesadaran akan pentingnya pelestarian. Ini adalah pendekatan jangka panjang untuk memastikan bahwa sektor pariwisata bangkit tidak hanya sesaat, tetapi juga berkelanjutan untuk generasi mendatang.
Secara keseluruhan, strategi pemerintah untuk mengembangkan desa wisata berbasis komunitas menunjukkan pergeseran paradigma dari pariwisata massal menuju pariwisata yang lebih berkualitas, otentik, dan memberdayakan. Pendekatan ini tidak hanya menguntungkan pelaku pariwisata, tetapi juga memberikan manfaat langsung kepada masyarakat desa, menjadikan mereka subjek utama dari pembangunan pariwisata di Indonesia.
