Turun Tanah Warisan Leluhur dalam Menjaga Harmoni dengan Alam

  • Post author:
  • Post category:Berita

Turun tanah atau yang sering dikenal dengan sebutan Tedhak Siten merupakan ritual sakral dalam masyarakat Jawa. Upacara ini dilakukan saat anak mulai belajar berjalan sebagai bentuk penghormatan kepada bumi. Tradisi ini adalah Warisan Leluhur yang mengandung nilai-nilai luhur mengenai hubungan harmonis antara manusia, Tuhan, serta alam semesta yang menyertainya.

Prosesi diawali dengan menapakkan kaki anak pada jadah tujuh warna yang terbuat dari ketan. Warna-warna tersebut melambangkan simbol kehidupan yang penuh dinamika dan rintangan yang harus dihadapi. Melalui ritual Warisan Leluhur ini, orang tua mendoakan agar sang anak mampu melewati setiap fase sulit dalam hidupnya dengan penuh keberanian dan kebijaksanaan.

Tahapan berikutnya adalah menaiki tangga tebu sebagai simbol cita-cita yang tinggi dan ketetapan hati. Tebu dalam filosofi Jawa berarti mantapnya kalbu dalam melangkah menuju masa depan. Praktik Warisan Leluhur ini mengajarkan anak untuk terus berjuang mencapai derajat yang lebih baik tanpa melupakan akar budaya dan kerendahan hati kepada sesama.

Setelah itu, anak dimasukkan ke dalam kurungan ayam yang berisi berbagai macam benda menarik. Pilihan benda yang diambil dianggap mewakili kecenderungan minat atau bakat anak saat ia dewasa nanti. Kearifan dalam Warisan Leluhur ini mencerminkan betapa besarnya perhatian orang tua terhadap pengembangan potensi diri anak sejak usia dini secara spiritual.

Pembersihan diri dilakukan dengan memandikan anak menggunakan air yang ditaburi bunga setaman yang harum. Ritual ini bermakna agar sang anak senantiasa memiliki jiwa yang bersih dan mampu mengharumkan nama baik keluarga. Kesucian lahir dan batin menjadi syarat utama dalam menjalani kehidupan yang penuh berkah di lingkungan masyarakat yang sangat luas.

Bagian yang paling dinantikan oleh tamu undangan adalah penyebaran udhik-udhik berupa uang koin dan beras kuning. Hal ini mengajarkan nilai kedermawanan dan rasa syukur atas rezeki yang telah diterima dari Tuhan. Sikap gemar berbagi ini diharapkan menjadi karakter yang melekat pada sang anak sepanjang hayatnya hingga ia tumbuh dewasa.

Makna mendalam dari seluruh rangkaian acara ini adalah permohonan restu kepada alam agar senantiasa melindungi sang anak. Tanah bukan sekadar benda mati, melainkan sumber kehidupan yang harus dijaga dan dihormati kelestariannya. Kesadaran ekologis ini sudah tertanam sejak lama dalam setiap langkah kaki kecil sang buah hati yang baru mulai berjalan.